Persembahan buat yag jatuh cinta
Boleh ngga sih
mengungkapkan perasaan suka atau perasaan cinta kita ke lain
jenis?Bolehkah cewe bilang cinta ke cowo atau cowo bilang cinta ke
cewe? Bagaimana Islam memandang persoalan ini? Adakah larangannya dalam
Al-Qur'an dan Assunnah?
Yuk, kita bahas. Sampai saat ini saya sendiri belum menemukan dalil larangan khusus untuk larangan
mengungkapkan
perasaan cinta atau suka kepada lain jenis. Beberapa ustadz atau
pemateri yang mengisi sebuah acara seperti ta'lim, talk show, atau
tabligh akbar yang bertemakan cinta sering kali menyitir hadits
berikut.
"Barang
siapa yang jatuh cinta, lalu menyembunyikannya dan memelihara kesucian
dirinya serta bersabar sampai dia meninggal dunia, maka dia adalah
seorang yang mati syahid."
atau,
"Barang
siapa yang jatuh cinta, lalu menyembunyikannnya dan menahan diri dengan
penuh kesabaran, niscaya Allah akan memberikan ampunan baginya dan
memuaskannya ke dalam surga."
dan hadits berikut,
"Barang siapa yang jatuh cinta, lalu menahan dirinya hingga meninggal dunia, maka dia syahid."
Dengan
dalil-dalil tersebut para ustadz dan pemateri tersebut mengatakan,
"Makanya kalo kamu-kamu lagi jatuh cinta ngga perlu deh bilang-bilang
ato ngungkapin perasaan kamu, tahan aja. Kalo itu berhasil kamu lakuin
terus bikin kamu meninggal, ganjarannya syahid bro! Langsung masuk
surga alias shortcut to heaven!"
Dengan
hadits-hadits tersebut maka mereka jadikan "larangan" atau setidaknya
sebagai keutamaan untuk tidak mengungkapkan perasaan cinta, cukup
dipendam saja, kalau dibawa sampai mati, matinya mati syahid.
Nah, tapi
benarkah hadits ini bisa diterima? Berderajat hasan atau shahihkah?
Mari kita lihat pendapat Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, seorang Ulama yang
dikomentari oleh Al-Imam Burhanuddin Azzar'iy, "Di kolong langit ini
tiada seorang pun yang lebih luas ilmunya daripada Ibnul Qayyim
Al-Jauziyyah". Tentang hadits-hadits tersebut. Ibnul Qayyim dalam
kitabnya Thibbun Nabawi (Pengobatan Nabi) dalam Bab Petunjuk Rasulullah
SAW untuk Mengatasi Penyakit Asmara berkomentar,
"Jangan
tertipu oleh hadits palsu yang mengatasnamakan Rasulullah SAW yang
diriwayatkan oleh Suwaid bin Said, dari Ali bin Mushir, dari Abu Yahya
Al-Qattat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Nabi, diriwayatkan pula
dari Aisyah dari Nabi. Diriwayatkan oleh Azzubair bin Bakr, dari Abdul
Malik bin Abdul Aziz bin Majisyun, dari Abdul Aziz bin Hazim, dari Ibnu
Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas dari Nabi bahwa beliau
bersabda, "Barang siapa jatuh cinta, lalu menjaga kesuciannya, lalu ia
meninggal dunia, maka ia mati syahid." dan dalam riwayat lain
disebutkan, "Barang siapa jatuh cinta (kasmaran), lalu ia menyembunyikan
perasaannya, menjaga diri dan bersabar, akan Allah ampuni dosa-dosanya
dan akan Allah masukkan ke dalam Surga-Nya."
Syahid
adalah kedudukan tertinggi di sisi Allah, disejajarkan dengan kedudukan
Shiddiqiin. Kedudukan ini harus dicapai dengan amalan dan kondisi
tertentu yang merupakan syarat mutlak.Syahiid ada dua macam : syahid
umum dan syahid khusus. Syahid khusus adalah syahid fi sabilillah.
Syahid umum ada lima, disebutkan dalam sebuah hadits shahih, dan mati
karena tertikam panah asmara tidak termasuk di dalamnya. Karena panah
asmara bisa merupakan syirik terhadap Allah dalam cinta, merupakan
hasil kealpaan terhadap Allah serta membiarkan hati, jiwa dan cinta
menjadi milik selain Allah. Maka bagaimana mungkin ia termasuk
kedudukan yang mendatangkan mati syahid?
Bahaya panah
asmara terhadap hati melebihi sesuatu. Ia bahkan dapat disebut sebagai
khamrnya rohani yang menyebabkan jiwa mabuk kepayang sehingga
menghalanginya untuk berdzikir kepada Allah. Hati orang yang dirundung
asmara akan menjadi hamba kekasihnya. Cinta kasih itulah yang
mengoptimalkan rasa tunduk, kecintaan dan kepasrahan mendalam. Bagaimana
mungkin ketundukan hati kepada selain Allah dapat membawa seseorang
kepada kedudukan mulia di kalangan ahli Tauhiid, di kalangan pemuka dan
orang istimewa di antara mereka." (Selesai kutipan dari Ibnul Qayyim)
Dalam kitab
yang lain yang juga ditulis oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, berjudul
Rawdhatul Muhibbin wa Nazhatul Musytaqiin (Taman Orang-orang yang Jatuh
Cinta dan Rekreasi Orang-orang yang Dimabuk Rindu) beliau berkomentar
tentang hadits tersebut dengan senada, hadits-hadits tersebut bukan
dari Rasulullah SAW.
Saya pun tak
habis pikir kalau hadits-hadits tersebut bisa diterima alias
berderajat Hasan atau Shahih. Saya punya tiga alasan logis mengapa
berkata seperti itu:
Pertama,
seandainya hadits tersebut bisa diterima saya punya cara yang singkat
supaya bisa dapat gelar Asy-Syahid, alias Shortcut to Heaven!! Gak
perlu repot-repot pergi ke Palestina, Iraq, atau Afghanistan lalu
bergabung bersama Mujahidin di sana untuk perang terus kamu ketembak
atau kena bom lalu mati syahid. Ngga perlu, bikin capek aja. Gini
caranya, Umbar pandangan ke akhwat atau cewe yang paling cantik di
kampusmu, jangan yang jelek atau standar. Lihat terus dengan seksama
wajahnya yang cantik dan menggiurkan, biarkan terus jangan bergeming!
Tatap terus, terus, dan terus, abaikan stimulus dari luar. Hati-hati
jangan sampe ngiler! Kalo ngiler nanti wibawamu jatuh di depan gadis
pujaanmu! Kalau ternyata sikapmu yang sedang mengumbar pandangan itu
kepergok gadis pujaanmu yang sedang kamu pelongin itu, biarkan saja,
balas dia dengan kedipan mata yang genit. Jangan pedulikan larangan
Allah dalam Surah Annur ayat 30-31 tentang kewajiban menundukkan
pandangan atau hadits Nabi tentang larangan pada pandangan yang kedua.
Ngga apa-apa dosa dikit, nanti juga ditebus dengan matinya kamu sebagai
syahid. Lalu kamu biarkan bibit-bibit cinta tumbuh di hatimu, tumbuh
menjadi bunga cinta yang indah dan mengakar kuat di hatimu, biarkan
pikiranmu melayang dan merasakan dalamnya cinta itu. Nah, setelah kamu
jatuh cinta pada pandangan yang pertama dan kelamaan memandang tersebut,
bayangkan si doi dimanapun berada, kalau bisa ingat-ingat doi di
setiap waktu dan tempat, waktu mau makan, tidur, masuk WC. Setelah
tubuhmu bergejolak tidak keruan gara gara cinta itu, karena
hormon-hormon dalam tubuhmu bersekresi tidak seimbang dan tidak
teratur, maka jadilah kamu sakit sampai menjelang sakaratul maut. Tapi
ingat! tetap jangan ungkapkan perasaanmu ke si doi, Jangan bilang
"Uhibbuki", "I Love U", atau "aku cinta kamu", sembunyikan dan tahan
perasaan itu. Kalau ngga, nantinya malah ngga mati syahid. Biarkan
dirimu sekarat gara-gara cinta itu sampai Malaikat maut menjemputmu.
Selamat! ketika jantung tak lagi berdetak dan gelombang otak sudah
tidak berfrekuensi lagi, tubuhmu tak perlu lagi dimandikan, langsung
dikuburkan saja, karena kamu telah "SYAHID"! Itupun kalau hadits-hadits
tersebut berderajat shahih atau paling tidak hasan.
Kedua, bila
hadits-hadits tersebut diterima, maka akan menghapuskan keutamaan
menikah yang merupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam,
bahkan beliaupun membenci orang yang tidak mau menikah dan menganggap
bukan ummatnya bila tidak suka dengan Sunnahnya. Nikah merupakan
anjuran bagi Ummat Islam, karena untuk melanjutkan keturunan, karena
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam akan berbangga dengan ummatnya
yang banyak jumlahnya di hari akhir nanti. Nikah bahkan merupakan
Nishfuddiin (Setengah dari agama) dan setengahnya lagi ada dalam
ketaqwaan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka keutamaan-keutamaan tersebut
akan hilang dibenak seseorang yang telah jatuh cinta dan mestinya
melanjutkan ke tahap akad nikah. Dia akan berpikir, "Buat apa nikah?
mending saya pendam saja perasaan cinta ini dan saya akan sabar dengan
perasaan ini. Kemudian saya sembunyikan perasaan ini dan saya bawa
perasaan ini sampai mati, biar saya mati syahid. Ini namanya Shortcut
to Heaven. Gitu aja kok repot? (Sambil meniru gaya bicaranya Gus Pur)"
Ketiga, Jika
hadits ini Shahih atau Hasan maka bakal ada berapa banyak orang yang
jadi pengangguran, lalai dan enggan melakukan aktivitas karena
menikmati tikaman panah asmara dan menunggunya sampai dia sekarat dan
"mati syahid". Seandainya di suatu kota atau perkampungan masyarakatnya
banyak yang berpikir untuk mengambil jalan Shortcut to Heaven seperti
yang saya sebutkan pada poin pertama maka bisa jadi aktivitas kota atau
perkampungan tersebut akan mati, jalan-jalan akan sepi, pasar-pasar
pun akan sepi, mall-mall megah pun tak kalah sepinya, ketika malam tiba
lampu-lampu tak kunjung menyala kecuali lampu kamar-kamr mereka yang
sedang menikmati tikaman panah asmara. Karena semuanya sedang menderita
karena terkena panah asmara dan menunggu untuk "syahid". Tak ada
keutamaan lagi dan tak ada alasan lagi untuk melakukan Da'wah dan
Jihad, karena sudah punya cara untuk langsung masuk syurga dengan
menikmati tikaman panah asmara yang mengantarkannya kepada "mati
syahid". Jadi untuk mati syahid tidak perlu dengan amalan-amalan yang
berat seperti Jihad atau Da'wah atau yang lainnya, cukup dengan
menghujamkan panah asmara ke diri sendiri lalu menunggu sampai dia
terkena penyakit TBC (Tekanan Batin Cinta) yang membuat dia sekarat
lalu "mati syahid".
Nah, apakah
sudah terjawab pertanyaan : Boleh ngga sih mengungkapkan perasaan suka
atau perasaan cinta kita ke lain jenis? Bila kita mendasarinya pada
hadits hadits palsu dan dha'if yang sudah dipaparkan di atas maka tak
ada larangannya untuk mengungkapkan perasaan kita pada lain jenis.
Kisah Ali ibn Abi Thalib ra. dan Fathimah putri Rasulullah SAW yang
baru mengungkapkan perasaan cintanya pada saat setelah menikah
sebenarnya tidak bisa dijadikan dalil larangan mengungkapkan cinta
sebelum nikah, karena dalam kisah tersebut tidak ada fi'il amr (kata
kerja perintah) atau fi'il nahyi (kata kerja larangan) untuk
memerintahkan memendam perasaan cinta atau larangan mengungkapkan
perasaan cinta. Jadi, setelah saya telusuri, sampai saat ini saya belum
menemukan dalil-dalil yang melarang untuk mengungkapkan perasaan cinta
atau perintah memendam perasaan cinta. Artinya belum tentu orang yang
mengungkapkan perasaan cinta kepada lain jenis walapun bukan mahramnya
(misalnya kekasihnya) adalah perbuatan fasiq.
Weits!!
Tunggu dulu!! Jangan dulu beranjak!! Mentang-mentang tak ada
larangannya jangan dulu buru-buru pergi menghampiri si doi sambil ngasih
bunga plus cokelat yang dibungkus dengan kado berbentuk hati berwarna
pink disertai dengan tulisan "I Love U" sambil berlutut di hadapan si
doi! Jangan mentang-mentang udah belajar di Ma'had Al-Imaraat padahal
baru level Tamhidi (persiapan) buru-buru ngambil HP terus dengan
sok-sokan ngirim SMS pake Bahasa Arab ke si doi "Uhibbuki Jiddan (Aku
sangat mencintaimu)"! Atau tiba-tiba pas lagi baca tulisan ini si doi
lewat di hadapan kamu, terus dengan spontan kamu menjilati telapak
tanganmu lalu memoles rambutmu yang acak-acakan dengan telapak tanganmu
berlumur air liur tersebut biar keliatan ganteng, kemudian
menghampirinya dan bilang "Sebenarnya sudah lama aku mencintaimu."
Sabar, masih
ada pertimbangan lain. Pertimbangan maslahat dan madharat. Artinya,
ketika kita mengungkapkan perasaan cinta kita kepada seseorang yang
kita cintai apakah kita juga memikirkan efek jangka panjangnya.
Menghujamnya perasaan cinta yang mendaalam kemudian menimbulkan efek
"khamr hati" yang kemudian membuat kita lalai dzikr kepada Allah, bahkan
syirik mahabbah (cinta), faktornya bukan hanya dari mata. Memang kata
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Rawdhatul Muhibbin wa Nazhatul
Musytaqiin salah satu faktornya memang dari mata jelalatan yang sering
mengumbar pandangan, sehingga jadilah penyakit hati yang akut,
bagaikan karat yang sangat tebal menutup cermin hati kita sehingga
karatnya susah minta ampun dibersihkannya, larangan mengumbar pandangan
jelas tertulis dalam Al-Qur'an surah Annur (24) ayat 30,
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya..."
Kemudian di ayat 31,
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya..."
Begitu juga
bila perasaan cinta itu diungkapkan, apalagi kalau cintanya gayung
bersambut, akan memperkuat dan memperdalam rasa cinta kita pada sang
kekasih, efeknya tidak jauh beda dengan ketika kita mengumbar
pandangan. Kalaulah hanya bertepuk sebelah tangan efeknya pun bisa jadi
tidak jauh beda, justru bisa jadi malah tambah semangat untuk mengejar
sang kekasih agar mau menerima cintanya, usaha yang dilakukan pun tidak
tanggung-tanggung, yang pada ujungnya melalaikannya untuk mencintai
Allah.
Mengungkapkan
perasaan cinta kepada lain jenis yang belum menjadi mahramnya adalah
kesempatan besar untuk men-tarbiyah (mendidik) dan menumbuh suburkan
perasaan cinta kepada selain Allah. Bahkan efek "khamr hati" bisa jadi
lebih berbahaya dari khamr yang asli. Bahkan tak jarang menjurus kepada
syirik mahabbah (cinta), simak firman Allah,
Dan di
antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
(QS. Al-Baqarah : 165)
Cinta
merupakan salah satu unsur ibadah kepada Allah, bahkan merupakan inti
dari ibadah. Apa jadinya bila cinta yang merupakan unsur ibadah
dibelokkan kepada selain Allah. Benda-benda yang bisa menjadi stimulus
untuk selalu mengingat sang kekasih, SMS-SMS darinya yang enggan dan
sulit untuk dihapus karena perasaan cinta yang masih menyelimuti hati,
lama-lama akan menghujam kuat dan menjadi karat hati yang amat sulit
dibersihkan. Bahkan dokter sekalipun kebanyakan angkat tangan untuk
menyembuhkan penyakit kasmaran. Jatuh Cinta akan membuat kita jatuh ke
dalam cinta yang tidak berkah, terupurk di dalamnya, terhina karenanya,
membuat kita benar-benar jatuh. Membuat kita enggan bangkit dari tempat
tidur karena menikmati khayalan indahnya bisa bersama dirinya, membuat
kita menangis sia-sia karena merasa kehilangan dia. Menahan perasaan
cinta lebih baik daripada mengunkapkannya, mengungkapkan perasaan cinta
ibaratnya sebuah pemantik api yang akan membakar api asmara yang sulit
dipadamkan. Jadi pertimbangkan juga dari segi maslahat dan madharatnya.
Menahan untuk mengungkapakan perasaan cinta lebih maslahat bila belum
siap untuk menikah, mengungkapkan perasaan cinta bahkan hampir tidak
ada maslahatnya, justru madharatnya lebih besar. Bila kita bisa
berpikir jernih dan memikirkan efek jangka panjang bisa kita dapati
bahwa mengungkapkan perasaan cinta bila belum siap untuk menikah akan
menimbulkan madharat, madharatnya yang paling kecil adalah lalai dari
mengingat kepada Allah, madharat paling parah bisa menimbulkan syirik
dalam hati karena mencintai selain kepada Allah seperti mencintai Allah,
bahkan bisa lebih. Lain halnya bila sudah menikah, karena telah
dibingkai dalam bingkai syari'ah, bahkan terdapat banyak keutamaan
dibandingkan ketika membujang. Melakukan Jima' yang asalanya berzina
bila dilakukan sebelum menikah maka setelah menikah justru mendapatkan
pahala. Berpegengan tangan yang awalanya "lebih baik dicerca dengan besi
yang panas yang menyala" ketika sudah menikah maka menjadi penggugur
dosa.
Sekali lagi :
Boleh ngga sih mengungkapkan perasaan suka atau perasaan cinta kita ke
lain jenis? Walau secara tegas dan khusus belum ditemukan larangannya
dan keutamaannya dalam Al-Qur'an dan Assunnah, namun di sisi lain kita
harus mempertimbangkan dari segi maslahat dan madharatnya. Saya yakin,
Anda-anda yang membaca tulisan ini bisa memikirkannya dengan hati yang
jernih dan dengan akal yang sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar